Kamis, 15 Mei 2014

TIPS MENGENALKAN MAKANAN PADA ANAK

Bayi sangat membutuhkan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan pertama dan utama bayi pada enam bulan pertama kehidupannya. Tidak ada formula makanan yang bisa memberi sistim proteksi imunologis sebaik kolostrum, yang terdapat di dalam ASI terutama di masa-masa awal kelahiran. Sehingga, jika bayi tidak mungkin mengkonsumsi ASI untuk jangka waktu lama, para ibu sebaiknya tetap mengupayakan agar bayi tetap bisa mengkonsumsi ASI pada beberapa minggu awal kelahirannya. Jika pemberian ASI dengan terpaksa tidak bisa diteruskan, maka susu formula untuk bayi merupakan alternatif pengganti terbaik.

ASI atau susu formula khusus bayi merupakan satu-satunya sumber makanan bayi selama 4 – 6 bulan awal kelahirannya dan hendaknya tetap menjadi makanan pokok bayi sebelum usianya mencapai satu tahun. Jika anda memberikan susu formula, pastikan botol susu dalam kondisi bersih dan menggunakan air bersih matang untuk membuat susu agar tidak menyebabkan gangguan kesehatan pada bayi.

Kapan memberikan Makanan padat?
Kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan makanan semi padat (bubur) atau padat kepada bayi, akan sangat tergantung pada perkembangan bayi anda. Beberapa tanda awal yang dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kesiapan bayi mengkonsumsi makanan padatnya adalah sebagai berikut:
  • Berat badan bayi naik menjadi dua kali berat badan lahir
  • Bayi sudah bisa duduk dan mengontrol kepalanya
  • Bayi bisa mengontrol gerakan tubuhnya untuk menerima atau menolak makanan
  • Lidah bayi tidak mengeluarkan makanan yang diberikan
Tetapi, tidak dianjurkan untuk memperkenalkan makanan semi-padat dan atau padat pada bayi berumur 4 – 6 bulan karena sistim pencernaan mereka belum siap menerima makanan ini. Masalah yang mungkin terjadi jika bayi mengkonsumsi makanan padat terlalu awal mulai dari tersedak sampai alergi makanan. Kondisi ini, secara psikologis bisa menyebabkan bayi atau anda sendiri menjadi stress.

Perlakukan Bayi Sebagai / Selayaknya Bayi
Belajar makan untuk pertama kali merupakan peristiwa besar bagi seorang bayi. Sehingga, perkenalan ini hendaknya dilakukan pada saat bayi berada dalam kondisi gembira. Suapi bayi dalam kondisi santai, tidak terburu-buru, sehingga buah hati anda bisa menikmatinya makanannya tanpa menjadi stress.

Bayi bukan orang dewasa, jadi perlakukan bayi anda sebagai bayi. Gunakan sendok khusus bayi, untuk menyuapinya. Menggunakan sendok khusus bayi yang berlapis plastik akan melindungi gusi bayi dari kemungkinan lecet terkena sendok. Jangan menggunakan botol atau infant feeder untuk menyuapkan makanan semi padat seperti bubur sereal karena akan memperbesar resiko bayi anda tersedak atau makan berlebihan.

Perkenalkan hanya satu makanan pada satu waktu. Tunggu satu minggu sebelum memperkenalkan makanan yang lain dan cermati apakah bayi menunjukkan reaksi alergi seperti muntah, diare, cegukan atau ruam kulit. Jika anda hanya memberikan satu jenis makanan pada satu waktu dan tidak terjadi reaksi penolakan apapun, maka anda bisa meneruskan pemberian makanan tersebut dan tidak perlu khawatir akan terjadi alergi. Jika bayi menolak makanan barunya, jangan paksa dia. Ulangi lagi pada hari berikutnya. Jika bayi masih tidak mau, tunda 2 – 3 minggu sebelum anda mencoba lagi untuk memperkenalkan makanan tersebut kepadanya.

Untuk menjaga kesehatan bayi anda, maka jangan simpan makanan sisa untuk diberikan kembali pada bayi anda. Buang sisa makanan yang tidak dihabiskan si buah hati, karena makanan sisa bisa menjadi tempat tumbuh yang sangat digemari oleh bakteri patogen penyebab penyakit. Jadi, agar anda tidak terlalu membuang-buang makanan, siapkan makanan bayi dalam jumlah atau porsi yang sesuai untuknya.

Makanan Padat Pertama
Makanan padat bayi yang pertama adalah makanan pengganti ASI (MP-ASI) seperti tepung sereal atau biskuit bayi yang dilarutkan dengan susu atau air. Mulailah dengan bubur beras yang efek alerginya paling minimal. Setelah bayi bisa mengkonsumsi bubur berasnya selama satu minggu, anda bisa memperkenalkan makanan semi padat lainnya pada bayi misalnya bubur kacang hijau atau bubur gandum.

Perkenalkan bayi pada makanan encer yang kemudian secara bertahap kekentalannya bisa ditingkatkan, tergantung pada kesiapan bayi. Gunakan susu formula khusus bayi untuk mengencerkan atau melarutkan makanan padat. Jangan menggunakan susu sapi, susu formula yang tidak dibuat khusus untuk bayi, ataupun santan, karena sistim pencernaan bayi (umur kurang dari 1 tahun) belum sanggup mencernanya dengan baik. Jika formula MP-ASI sudah mengandung susu, maka makanan ini bisa diencerkan dengan menggunakan air hangat atau air panas tergantung pada cara penyajian yang dapat dibaca pada kemasannya.

Pelajari pula tanda-tanda yang ditunjukkan bayi anda jika dia sudah kenyang seperti mulai bermain, mendorong sendok yang disodorkan kepadanya atau menggeleng-gelengkan kepalanya. Belajarlah menghargai bayi anda dan jangan memaksa dia menghabiskan makanannya.

Sayuran, buah dan daging dapat diperkenalkan pada bayi setelah si kecil bisa menikmati bubur serealnya. Seperti halnya sereal, perkenalkan hanya satu jenis sayur atau buah pada satu waktu dan selalu cermati kemungkinan timbulnya alergi makanan.

Mulailah dengan memperkenalkan sayuran dengan flavor (aroma) yang tidak terlalu tajam seperti wortel dan kemudian tambahkan buah seperti apel, jeruk, pepaya dan pisang. Setelah bayi terbiasa dengan beberapa jenis sayuran, anda bisa menggunakan variasi dua jenis 2 jenis sayur per-hari untuk variasi makanan dan nutrisi tambahan bagi bayi anda. Makanan yang mengandung nitrat seperti bayam sebaiknya diperkenalkan setelah bayi berusia setahun. Sayuran sebaiknya diperkenalkan pertama kali sebelum buah, karena jika dimulai dengan buah yang memiliki rasa manis dapat menyebabkan beberapa jenis sayuran menjadi tidak menarik bagi sang bayi.

Daging diperkenalkan setelah bayi ’berkenalan’ dengan sayur dan buah. Seperti sebelumnya, perkenalkan hanya satu jenis olahan daging pada satu kali penyajian dan perhatikan ada tidaknya reaksi alergi. Kuning telur (harus sudah dimasak) diperkenalkan kepada bayi setelah bayi bisa menerima daging. Resiko alergi biasanya lebih tinggi jika bayi mengkonsumsi putih telur sehingga, putih telur sebaiknya diperkenalkan setelah bayi berumur satu tahun.

Ketika bayi berusia 6 – 7 bulan, mereka biasanya sangat menyukai makanan camilan yang bisa mereka genggam. Anda bisa memberikan bayi anda biskuit susu, crackers, buah atau sayuran (yang sudah dimasak). Hindari memberikan camilan dengan kandungan gula, garam dan MSG yang tinggi, atau yang teksturnya keras untuk menghindari bayi anda tersedak atau tercekik.

Respon alergi yang disebabkan oleh makanan
Beberapa gejala alergi yang mungkin terjadi setelah bayi mengkonsumsi menu barunya adalah sebagai berikut:
  • Gangguan di saluran pencernaan, seperti muntah, diare, kembung atau kentut terus-menerus.
  • Masalah kulit seperti timbulnya rasa gatal, kulit bengkak atau berbintik merah atau mengalami ruam kulit
  • Gangguan pernapasan seperti napas sesak, batuk atau napasnya berbunyi.
Jika bayi menunjukkan gejala alergi terhadap suatu jenis makanan, stop pemberian makanan ersebut pada anak dan konsultasikan segera masalah ini dengan dokter anak. Beberapa makanan tertentu memiliki peluang lebih besar untuk menyebabkan alergi pada bayi, diantaranya susu sapi, telur, kacang dan olahannya termasuk mentega kacang, terigu, jagung, dan makanan laut (seafood).

Untuk bayi yang beresiko mengalami alergi makanan, sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi ASI selama mungkin karena tidak menimbulkan alergi. Jika menggunakan susu formula, pilihlah susu dengan komponen penyusun yang meminimalkan resiko alergi. Hal ini dapat ditanyakan ke dokter anak atau dokter keluarga anda.

Jangan beri makanan padat dalam jumlah besar pada bayi anda. Semakin lama waktu penundaan pemberian makanan makanan padat pada bayi, akan makin banyak waktu yang tersedia untuk membentuk sistim imun pada bayi. Sistim imun yang baik ini akan membantu meminimalkan resiko alergi bayi terhadap beberapa jenis protein pangan tertentu. Dan yang terpenting, catat atau ingat selalu reaksi bayi anda terhadap setiap jenis makanan padat yang diberikan kepadanya.

Membuat Makanan Bayi Sendiri
Walaupun banyak produk makanan bayi yang beredar di pasaran, masih banyak orang tua yang lebih suka membuat sendiri makanan bayinya. Berikut beberapa hal yang harus diingat jika membuat sendiri makanan untuk si buah hati:
  • Selalu menjaga kebersihan selama menangani, mengolah dan menyimpan makanan
  • Menggunakan bahan baku yang mutunya baik. Bisa digunakan dalam bentuk segar atau beku
  • Memasak dengan cara mengukus akan mempertahankan nutrisi jauh lebih baik dibandingkan dengan cara merebus. Dan sebaiknya makanan tidak diolah dengan cara digoreng.
  • Pemasakan dengan microwave oven merupakan metode pengolahan yang baik, terutama untuk sayuran karena makanan bisa dimasak dalam sedikit air.
  • Jangan menambahkan garam, gula ataupun bumbu lainnya kedalam makanan bayi
  • Jangan memberikan madu atau syrup jagung (corn syrup) pada bayi yang berusia kurang dari satu tahun karena madu atau sirup jagung mungkin mengandung spora Clostridium botulinum. Spora ini walaupun tidak menyebabkan sakit pada orang dewasa, dapat menyebabkan bayi menjadi sakit.
  • Buah diberikan dalam bentuk bubur buah. Jangan lupa untuk mencuci bersih dan mengupas kulit luarnya.
  • Setelah selesai dimasak, makanan hendaknya disimpan dalam wadah bersih tertutup di dalam refrigerator atau freezer. Jika suhu refrigerator anda maksimal 10° C, anda bisa menyimpan makanan tersebut selama 1-2 hari. Jika makanan disimpan di freezer, maka dalam kondisi beku makanan bisa disimpan sampai dua bulan. Jangan lupa untuk memanaskan makanan tersebut sebelum memberikannya kepada buah hati anda!
Oleh: Elvira Syamsir

HIPNOTIS BERKAITAN DENGAN JIN

Apakah Hipnotis Berkaitan Dengan Jin? Dan Apa Hukumnya?
Tidak kita pungkiri bahwa pertanyaan ini terkadang selalu muncul pada benak kita. Dan tidak kita pungkiri banyak orang menganggap bahwa penggunaan cara hipnotis itu banyak. Dan kenyataannya memang demikian, namun di suatu negara dan tempat penggunaannya ternyata berbeda. 

Kalau di jazirah arab banyak digunakan untuk menyembuhkan, menguatkan persiapan ujian, dan lainnya yang kelihatannya baik. Berbeda di negara yang lain digunakan untuk sarana merampok, mencuri dan menipu. Maka dari sini kita akan berusaha melihat apa hukum yang diberikan para ulama umat ini. Dan alhamdulillah, kita bisa menemukan dan setelah itu mengikuti apa yang difatwakan oleh Asy- Syaikh Al-Albany dan Al-Lajnah Ad-Daimah yang dipimpin oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz. 

Kita menyebut perkara ini dengan kata hipnotis, dalam bahasa inggris disebut hypnotism atau hypnotic, dll

Berikut fatwa dan pengarahan ulama terkait permasalahan ini. Sebagaimana pada kitab “Alfu Fatawa Li Asy- Syaikh Al-Albany” (2/90) yang dikumpulkan oleh Abu Sanad Fathulloh : Pengobatan yang diberikan oleh sebagian orang yang menampakkan dirinya seperti orang shalih yang disebut dengan nama di atas, entah dengan cara seperti orang dulu yaitu berhubungan dengan jin seperti dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, atau yang lain yang saya sebut dengan hipnotis, maka hal ini adalah cara yang tidak disyari’atkan. Karena semua ini terjadi dengan meminta pertolongan kepada jin. Yang mana ini merupakan sebab sesatnya kaum musyrikin. Hal ini sebagaimana Allah sebutkan, “Dan bahwasanya ada sekelompok lelaki dari bangsa manusia meminta perlindungan kepada sekelompok lelaki (dari) bangsa jin, maka mereka {sekelompok lelaki bangsa jin} menambahi mereka {sekelompok lelaki dari bangsa manusia} ketakutan dan dosa.” (Al-Jin: 6), Dinukil dari Ash-Shahihah (6/614) 

Dalam kitab “Fatawa Al-Lajnah Ad- Da’imah” (1/338) fatwa no. 1779 disebutkan: Apakah hukum islam terkait hipnotis, yang dengannya akan menguat kemampuan penghipnotis (penghilang kesadaran) menguasai yang dihipnotis lalu berikutnya orang tersebut akan mudah dikendalikan, untuk diajak meninggalkan perkara yang haram atau disembuhkan dari penyakitnya, atau melakukan sesuatu yang dituntut oleh penghipnotis? 

Jawab; Hipnotis itu merupakan bentuk perilaku perdukunan (sihir) yang dilakukan melalui bantuan jin, yang dengannya penghipnotis bisa mempengaruhi orang yang dihipnotis. Maka dia berbicara sesuai kemauan penghipnotis, dan jin itu memberinya kekuatan untuk melakukan sebagian pekerjaan dengan tekanan pengaruh padanya. Jika hal itu bertepatan dengan penghipnotis maka itu merupakan ketaatan padanya, sebagai balasan dari apa yang dipersembahkan penghipnotis dan menjadikan jin itu yang menghipnotis mentaati kemauan penghipnotis….. Dan seterusnya yang menunjukkan adanya kerjasama antara penghipnotis dan jin). Bahkan hal ini adalah syirik, karena hal ini adalah mengadu dan meminta tolong kepada selain Alloh. 

Asy-Syaikh Al-Albany ditanya sebagaimana dalam kaset “Silsilah Huda wa Nur” no. 324:

Apa hukum hipnotis?

Jawab: Ini adalah dajjal model baru, dajjal yang menyesuaikan zaman, maka hal ini tidak boleh. 

Pada kaset no. 27 beliau setelah menyebutkan hukum perdukunan dan sebagainya beliau berkata: Hipnotis ini termasuk perantara yang ghaib dari manusia, kalau memang seperti ini maka tidak boleh ditempuh. Setelah terjadi diskusi dengan para penanya, maka kesimpulan ucapan beliau bahwa hal ini (hipnotis) ditempuh dengan cara perdukunan dan sihir dan meminta bantuan jin.

JIKA ORANG LAIN BISA, SAYA PUN BISA

Apa yang membedakan Anda dengan orang lain yang sukses? Jawabannya karena Anda tidak mengerjakan apa yang orang sukses kerjakan. Peluang sukses adalah terbuka untuk semua orang, tidak peduli pendidikan, lingkungan, status, uang, dan sebagainya, semua orang bisa sukses jika melakukan hal-hal penyebab kesuksesan. Tentu saja dengan kekecualian, jika Alloh tidak mengijinkan Anda untuk sukses maka Anda tidak akan sukses. 


Untuk mencari penyebab kesuksesan ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan. Pertama Anda bisa mencontoh orang lain yang telah sukses. Contoh semua tindakannya, pemikirannya, termasuk sikap mentalnya. Orang sukses ada disekitar Anda, tindakan yang diperlukan hanyalah mencarinya kemudian bertanya. Setelah mendapatkan jawaban Anda tinggal menyesuaikan dengan tujuan yang ingin Anda capai. 

Selain bertanya kepada orangnya langsung Anda juga bisa membaca bukunya. Ada beberapa macam buku ditulis, ada buku yang ditulis mengenai biografi seseorang yang telah sukses. Dari buku tersebut Anda bisa belajar banyak dari kehidupan orang sukses. Apa yang dia lakukan dan bagaimana sikap orang tersebut? Jenis buku kedua ialah buku yang ditulis berdasarkan riset atau pengamatan terhadap orang-orang yang sudah sukses. Kelebihan jenis buku kedua ialah lebih mudah memahamai karena si peneliti telah merangkumkan buat Anda. Selain itu sumber yang dia teliti sering lebih dari satu orang, sehingga faktor sukses yang dipaparkan dalam buku tersebut lebih lengkap. 

Hal yang menyedihkan ialah justru minat baca di Indonesia masih sedikit. Kita perlu meningkatkan minat baca kita, keluarga kita dan orang-orang disekitar kita. Kabar baiknya di Indonesia harga buku cukup murah (meskipun ada yang mengatakan mahal, mungkin jika dibanding dengan penghasilan). Sebagai perbandingan, saya membeli buku terbitan USA, harganya sekitar US$ 20, sementara buku setebal tersebut di Indonesia harganya sekitar 30-40 ribu rupiah. 

Kadang apa yang dibaca dari orang lain tidak akan cocok dengan kita. Tentu saja karena berbagai kondisi yang berbeda antara orang yang Anda pelajari dengan kondisi Anda. Atau apa yang Anda lakukan ialah benar-benar baru, belum ada orang yang melakukannya. Untuk ini, yang diperlukan adalah keberanian mencoba-coba. Thomas Alfa Edison sampai ribuan kali mencoba membuat bohlam lampu, begitu juga Henry Ford berkali-kali membuat mesin mobil, dan orang yang telah terbukti sukses merintis sesuatu yang baru, pada awalnya melakukan berbagai percobaan atau usaha. Jika orang lain bisa dengan tekun, sabar, berani mengambil resiko, dan pantang menyerah, maka Anda pun bisa.

Oleh Rahmat

TIPS MENDIDIK ANAK SEPERTI NABI MENDIDIK

Seperti apakah ketika nabi muhammad mendidik Anak kecil dan bagaimana sikap kasih sayang beliau terhadap mereka kala itu?
Kurang lebih bisa kita gambarkan dengan 14 Tips Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam mendidik Anak sebagai berikut:

1. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam keluar rumah untuk menunaikan shalat Hari Raya Idul Fitri. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. 

Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya kompang-kamping dan kakinya tiada bersandal. Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam pun mendekatinya, lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah aku sendiri.” 

Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu. “Lalu ibuku kawih lagi. Hartaku habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya.

Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih melihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya itu.” 

Baginda Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata, “mengapa aku tak suka, ya Rosululloh?” kemudian, Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan. 

Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang.

Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam dan ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam hingga beliau wafat.

2. Ketika ja’far bin Abu Tholib Rodhialloohu ‘Anhu, terbunuh dalam peperangan mut’ah, Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak ja’far. Ketika mereka datang, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.

3.“Wahai Rosululloh, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada berita yang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan kawan-kawanya?” Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far, buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian ja’far.”

4. Ketika Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya kemudian menangis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.

5. Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam mencium Al-Hasan Rodhialloohu ‘Anhu lalu berkata, “Wahai Rosululloh, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”

6.  Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.” Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.

7. Ummu Kholid binti kho;id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!

8. Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam selalu bergaul dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).”

9. Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam.

10.Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rosululloh perna lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rosululloh, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesah-gesah sampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Rodhiyalloohu 'Anhuma

11.Ketika Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah Fatimah Rodhialloohu ‘anha, beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Alloh, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia. Ketika Rosululloh Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.

12.Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam sering bermain-main dengan Zainab binti Ummu Salamah Rodhialloohu ‘Anha & beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”

13.Nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa Sallam sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.

14.Rosululloh senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas Rodhialloohu ‘Anhu untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).” Merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rosululloh menciumi mereka dan memeluknya.

TIPS MENGAJARKAN SHOLAT PADA ANAK



 

Seorang bayi atau anak kecil bagaikan suatu bahan mentah yang siap di cetak oleh kedua orang tuanya, sebagai mana sabda rasul Nabi Muhammad “setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah, dan kedua orangtuanyalah yang menjadikan menyimpang dari fitrah tersebut,” oleh karenanya, peran orang tua sangatlah besar untuk mendidik anak atas akhlak islam, pengajaran ibadah maupun hal yang lain. Sebagai contoh, Tak sedikit para orang tua mengalami kesulitan dalam mengajarkan shalat pada anak, padahal, shalat merupakan hal yang wajib di ajarkan pada anak. cara mengajarkan shalat pada anak dapat dilakukan dengan :

Mulailah dari memberi contoh
Sebelum kita membangkitkan rasa keimanan anak, sebaiknya orangtua terlebih dahulu bercermin pada diri sendiri. Apakah rasa keimanan diri sudah terwujud lewat melakukan ibadah yang baik dan benar ? Jika belum, memulailah untuk memperbaiki ibadah sebelum ‘menurunkan’-nya pada anak. Dengan senatiasa mengingat Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala, jiwa seorang ayah maupun ibu akan senatiasa sadar dan terjaga akan perannya sebagai orangtua yang memiliki kewajiban untuk memberikan contoh pada anak-anaknya. Karena pendidikan ibadah yang terbaik adalah melalu contoh nyata dari kedua orangtuanya.

Menyaksikan kedua orangtua melakukan shalat lima waktu setiap hari sejak dini, membuat anak terpicu untuk meniru. Apalagi dikisahkan sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rosululloh mengenai kapan waktu untuk mulai mengajak anak pada ibadah shalat. Nabi menjawab, “Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Pada anak kemampuan membedakan tangan kanan dan tangan kiri diperolehnya pada masa balita, atau masa lima tahun pertama usianya, ketika ia sedang senang-senangnya meniru apapun yang dilakukan ayah dan ibunya.

Fase pengajaran
Ketika anak memasuki usia sekolah, yaitu sekitar usia 7 tahun, maka mulailah anak siap untuk memasuki masa untuk mempelajari tata cara shalat yang benar. Seperti yang dijelaskan Rosululloh, “Ajarilah anakmu shalat pada usia tujuh tahun.” Beberapa cara yang dapat dilakukan pada fase ini, yaitu mengajarkan rukun-rukun shalat melalui pendekatan praktek langsung. Misalnya pada waktu-waktu shalat orangtua mengajak anak untuk langsung melakukan shalat dengan bimbingan. Mulai dari tatacara thaharah dan berwudhu pada anak, bagaimana membentuk barisan, shaf-shaf pada shalat diikuti dengan praktek shalat yang benar serta menghafalkan doa-doa secara bertahap.

Ketika berusia sepuluh tahun anak belum juga mau mengikuti perintah shalat, maka diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi Shollalloohu ‘alaihi Wasallam bersabda; “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan jika telah berumur sepuluh tahun, namun tidak mau mengerjakan shalat maka pukullah.” Ungkapan ini perlu dimaknai dengan berhati-hati, karena makna ‘pukullah’ di sini tentu bukan melakukan hukuman dengan kekerasan fisik yang menyakitkan dan melukai anak... tetapi bahwa orangtua harus menunjukkan ketidak-senangan dan konsekuensi yang sangat tegas saat anak menolak sholat.

Tips mengajarkan sholat pada anak :

  1. Mendorong anak melakukan tata cara shalat dengan baik di usia balita, sambil menunjukkan kegembiraan yang dirasakan setiap selesai sholat. 
  2. Biasakan untuk melakukan shalat berjamaah bagi seluruh keluarga setiap ada kesempatan, setidaknya satu kali dalam sehari. 
  3. Sedangkan untuk anak usia sekolah merangsang ia melakukan ibadahnya secara konsisten untuk menunjukkan rasa syukur.
  4. Siapkan pojok/tempat ibadah di rumah untuk menunjukkan keutamaan ibadah dalam keluarga.