Sebagaimana telah
dijelaskan dalam tulisan yang telah lewat bahwa shalat Jum’at disyaratkan dengan berjama’ah di masjid.
Sebagian ulama menyaratkan harus minimal 40 jama’ah agar bisa dinyatakan sah.
Sebagian lainnya menyatakan dengan jumlah tertentu, 2, 3, 4, 12, dan Imam Ahmad
sendiri menyaratkan 50 orang sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni. Saat ini
rumaysho.com akan meninjau masalah tersebut secara ringkas. Moga Allah
mudahkan.
Shalat
Jum’at dengan Berjama’ah
Dipersyaratkan demikian
karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu
menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat)
para ulama. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 202)
Menurut madzhab Hanafiyah,
jika telah hadir satu jama’ah selain imam, maka sudah terhitung sebagai jama’ah
shalat Jum’at. Karena demikianlah minimalnya jamak. Dalil dari pendapat
Hanafiyah adalah seruan jama’ dalam ayat,
فَاسْعَوْا
إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
“Maka bersegeralah kalian kepada
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”
(QS. Al Jumu’ah: 9).
Seruan dalam ayat ini
dengan panggilan jamak. Dan minimal jamak adalah dua orang. Ada pula ulama
Hanafiyah yang menyatakan tiga orang selain imam.
Ulama Malikiyyah
menyaratkan yang menghadiri Jum’at minimal 12 orang dari orang-orang yang
diharuskan menghadirinya. Mereka berdalil dengan hadits Jabir,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَاءَتْ
عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا
اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam,
lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas
orang.” (HR. Muslim no. 863)
Ulama Syafi’iyah dan
Hambali memberi syarat 40 orang dari yang diwajibkan menghadiri Jum’at. Penulis
Al Mughni (2: 171) berkata, “Syarat 40 orang dalam jama’ah Jum’at adalah syarat
yang telah masyhur dalam madzhab Hambali. Syarat ini adalah syarat yang
diwajibkan mesti ada dan syarat sahnya Jum’at. … Empat puluh orang ini harus
ada ketika dua khutbah Jum’at.”
Dalil yang menyatakan
harus 40 jama’ah disimpulkan dari perkataan Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
لأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ
قَالَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ
بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ. قُلْتُ كَمْ
أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ.
“As’ad bin Zararah adalah orang
pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari
harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat.
Saya bertanya kepadanya, “Waktu itu, ada berapa orang?” Dia menjawab, ”Empat
puluh.” (HR. Abu Daud no. 1069 dan Ibnu Majah no.
1082. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).
Begitu pula ditarik dari
hadits Jabir bin ‘Abdillah,
مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِيْ كُلِّ أَرْبَعِينَ
فَمَا فَوْقَهَا
جُمْعَةٌ
“Telah berlalu sunnah (ajaran Rasul)
bahwa setiap empat puluh orang ke atas diwajibkan shalat Jum’at.”
(HR. Al Baihaqi dalam Al Kubro 3: 177. Hadits ini dho’if sebagaimana
didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul Gholil 603. Ibnu Hajar Al
Asqolani dalam Talkhish Habir 2: 567 berkata bahwa di dalamnya terdapat ‘Abdul
‘Aziz di mana Imam Ahmad berkata bahwa haditsnya dibuang karena ia adalah
perowi dusta atau pemalsu hadits. An Nasai berkata bahwa ia tidaklah tsiqoh. Ad
Daruquthni berkata bahwa ia adalah munkarul hadits). Kesimpulannya hadits
terakhir ini adalah hadits
yang lemah (dho’if) sehingga tidak bisa menjadi dalil pendukung.
Sedangkan hadits Ka’ab
bin Malik di atas hanya menjelaskan keadaan dan tidak menunjukkan jumlah 40
sebagai syarat. Sehingga pendapat yang rojih (kuat) dalam masalah ini adalah
jama’ah shalat Jum’at tidak beda dengan jama’ah shalat lainnya. Artinya, sah
dilakukan oleh dua orang atau lebih karena sudah disebut jamak.
Adapun hadits yang
menceritakan dengan 12 jama’ah, maka hadits ini tidak dapat dijadikan dalil
pembatasan hanya dua belas orang saja karena terjadi tanpa sengaja, dan ada
kemungkinan sebagiannya kembali ke masjid setelah menemui mereka.
Adapula pendapat Imam
Ahmad yang menyaratkan 50 orang, namun haditsnya lemah sehingga tidak bisa
dijadikan pendukung. Seperti hadits Abu Umamah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
عَلَى الْخَمْسِيْنَ
جُمْعَةٌ وَلَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ ذَلِكَ
“Diwajibkan Jum’at pada lima puluh
orang dan tidak diwajibkan jika kurang dari itu.
(HR. Ad Daruquthni dalam sunannya 2: 111. Haditsnya lemah, di sanadnya terdapat
Ja’far bin Az Zubair, seorang matruk).
Juga hadits Abu Salamah,
ia bertanya kepada Abu Hurairah,
عَلَى كَمْ تَجِبُ
الْجُمُعَةُ مِنْ رَجُلٍ ؟ قَالَ : لَمَّا بَلَغَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسِينَ جَمَّعَ بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Berapa jumlah orang yang diwajibkan
shalat jama’ah?” Abu Hurairah menjawab, ”Ketika sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah lima puluh, Rasulullah mengadakan
shalat Jum’at” (Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam
Al Mughni 2: 171). Al Baihaqi berkata, ”Telah diriwayatkan dalam permasalahan
ini hadits tentang jumlah lima puluh, namun isnadnya tidak shahih.”
(Sunan Al Kubra, 3: 255).
Pendapat
Terkuat
Perlu diperhatikan bahwa
jumlah jama’ah yang menjadi syarat sah Jum’at diperselisihkan oleh para ulama
sebagaimana penjelasan di atas. Namun jumlah jamak itu menjadi syarat sah shalat Jum’at
berdasarkan ijma’ (kata sepakat ulama) (Lihat Syarh ‘Umdatul Fiqh, Prof. Dr.
‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, 1: 396). Berapakah minimal jamak? Ada
yang mengatakan dua dan mayoritas ulama menyatakan minimal jamak adalah tiga
(Lihat catatan kaki Syarh ‘Umdatul Fiqh, 1: 396).
Asy Syaukani rahimahullah berkata,
“Shalat Jum’at adalah seperti shalat jama’ah lainnya. Yang membedakannya adalah
adanya khutbah sebelumnya. Selain itu tidak ada dalil yang menyatakan bahwa
shalat juma’at itu berbeda. Perkataan ini adalah sanggahan untuk pendapat yang
menyatakan bahwa shalat Jum’at disyaratkan dihadiri imam besar, dilakukan di
negeri yang memiliki masjid Jaami’, dan dihadiri oleh jumlah jama’ah tertentu.
Persyaratan ini tidak memiliki dalil pendukung yang menunjukkan sunnahnya,
apalagi wajibnya dan lebih-lebih lagi dinyatakan sebagai syarat. Bahkan jika ada dua orang melakukan
shalat Jum’at di suatu tempat yang tidak ada jama’ah lainnya, maka mereka
berarti telah memenuhi kewajiban.” (Ad Daroril Mudhiyyah Syarh
Ad Durorul Bahiyyah, 163)
Walloohu a’lam bish showwab. Walloohu waliyyut taufiq was sadaad.
@ Ummul Hamam, Riyadh,
KSA, 25 Shafar 1433 H
Artikel Rumaysho.Com
Twitter @RumayshoCom
[1]
Sebagian bahasan setelah ini dikembangkan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:
202 dan sumber lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar